Calon
Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi terpilih menjadi presiden Mesir setelah
memenangkan pemilu ulang. Hal itu diumumkan komisi pemilu, Minggu (24/06) di
Kairo.
Lebih dari
80 juta rakyat Mesir menunggu pengumuman hasil akhir pemilu ulang dengan
tegang. Komisi pemilu membutuhkan waktu sepekan untuk menghitung kertas suara.
Sekarang hasil resmi sudah diumumkan. Muhammad Mursi adalah presiden baru
Mesir. Ia anggota Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) dan ketua Partai untuk
Kebebasan dan Keadilan.
Tiga puluh
tahun yang lalu, insinyur bergelar doktor itu sudah bergabung dengan Ikhwanul
Muslimin. Sampai sekarang ia sudah memangku beberapa posisi dalam Ikhwanul
Muslimin. Awalnya ia bertugas di bagian agama, kemudian di kantor pimpinan, dan
akhirnya menjadi calon resmi anggota parlemen Mesir.
Karir dalam
Ikhwanul Muslimin
Karirnya
tidak berhenti di situ. Tahun 2005, Mursi yang juga pernah tinggal di AS,
menjadi juru bicara resmi Ikhwanul Muslimin. Karena di tahun sama ia mendukung
aksi protes terhadap manipulasi pemilu parlemen, ia ditangkap tahun 2006, dan
dipenjara tujuh bulan. Setelah kerusuhan dan jatuhnya mantan penguasa Hosni
Mubarak, April 2011 Muhammad Mursi menjadi ketua Partai untuk Kebebasan dan Keadilan,
yang didirikan di kalangan Ikhwanul Muslimin. Akhir tahun lalu, ia memimpin
partai itu dalam kampanye pemilu parlemen, dan berhasil mendapat 45% suara.
Pendukung
Mursi mengelu-elukan calon dari Ikhwanul Muslimin itu (24/06).
Tetapi tidak
ada yang menyangka, bahwa Mursi, yang berusia 60 tahun, akhirnya menjadi
pengganti Hosni Mubarak. Dalam Ikhwanul Muslimin sendiri, Mursi sebenarnya
hanya pilihan kedua. Partai untuk Kebebasan dan Keadilan baru menempatkannya
sebagai kandidat, setelah wakilnya, Chairat al Shater tidak boleh dicalonkan
dalam pemilihan presiden. Al Shater dianggak karismatik, sedangkan Mursi
pragmatik.
Kontinuitas,
Bukan Perubahan
"Muhammad
Mursi adalah sosok yang tidak menonjol." Itu juga dikatakan Hamadi al
Aouni, pakar Mesir di universitas Jerman, Freie Universität Berlin, dalam
wawancara dengan Deutschen Welle. "Ia berusaha mengadakan dialog, tetapi
ia tetap fundamentalis." Al Aouni memperkirakan, setelah Mursi menang, ia
tetap akan setia pada program Ikhwanul Muslimin. Kondisi sekarang memang
memungkinkan hal itu. Ikhwanul Muslimin adalah kekuatan terbesar dalam politik
Mesir, dan mereka memiliki hubungan paling luas di Mesir. Selain itu, Ikhwanul
Muslimin berakar kuat dalam bagian masyarakat Mesir yang konservatif.
Karena di
masa kekuasaan Hosni Mubarak Ikhwanul Muslim dilarang, gerakan itu menimbulkan
kesan bisa dipercaya di mata banyak warga Mesir. Tetapi Muhammad Mursi tidak
bisa menjadi wajah awal baru Mesir. Demikian pendapat Andrea Teti, dosen di
bidang hubungan internasional di Universitas Aberdeen und pengajar senior pada
European Center for International Affairs. "Ikhwanul Muslim selalu
memutuskan untuk berkompromi dengan rezim yang lalu, dan tidak menantang,"
demikian dikatakan Andrea Teti dalam wawancara dengan Deutsche Welle. Jadi
Muhammad Mursi, yang juga menentang rezim tua, dipandang lebih mendukung
kontinuitas, dan bukan perubahan.
Anne
Allmeling / Marjory Linardy
Editor:
Hendra Pasuhuk (www.dw.de)
0 komentar:
Posting Komentar